Jumat, 06 November 2009

Negara dan Agama

Deretan idealism yang merantai dunia adalah seperti gulungan bombardir otak dan jiwa umat manusia. Mereka layaknya jejaring Spiderman yang siap menjerat siapa saja untuk terperangkap dan menjadi budaknya selama-lamanya. Dalam pada itu, tema “negara dan agama” adalah primadona di ruang diskusi internasional.
Keduanya – negara dan agama – merupakan bentuk pilihan jiwa manusia untuk menjawab pertanyaan, “Untuk apa saya hidup?” atau “Apakah yang paling bisa dijadikan prinsip kebenaran hidup saya?”. Mereka sangat complicated dan menggenggam keduanya secara bersamaan sangat menyulitkan bagi sebagian makhluk paling sempurna bernama manusia. Selanjutnya, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya kaum sekuler yang memisahkan keberadaan agama dalam perilaku bernegara mereka adalah bukti nyata hasil kebingungan warga dunia.
Di dalam perjalanan sejarah, imperium agama yang bernegara sekaligus negara yang beragama pernah memimpin langkah kehidupan manusia bumi. Ialah kerajaan Abbasiyah dan kerajaan Umayyah yang notabene perpanjangan kisah daulah Islamiyah yang awalnya dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW dari kota kecil Madina yang suci 14 abad silam. Bahkan hingga kini, beberapa negara timur tengah sana masih menggunakan cara pandang yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAW. Contoh yang paling gamblang adalah Kerajaan Arab Saudi yang masih eksis dengan bendera hijau bertuliskan syahadat. Mereka yang menjalankan roda pemerintahan dengan energi keikhlasan dalam beragama mengetahui dengan cerdas bahwa keduanya – negara dan agama – adalah komponen yang saling menopang demi kesejahteraan rakyat bangsanya. Sebab negara yang dipertahankan Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan selalu menyadarkan para jajarannya untuk selalu memutuskan dan melakukan segalanya dengan tuntunan agama yang pastinya tidak akan mencederai HAM “standar dunia”, hukum keadilan dan falsafat keindahan tentang negara.
Sementara di Indonesia yang katanya 100 % penduduknya beragama, kita masih menjumpai adanya praktek sekularisme. Ambillah contoh intensitas pendidikan agama di sekolah yang hanya satu kali pertemuan satu minggu, atau beberapa kasus korup yang dilancarkan pejabat keagamaan, atau contoh yang paling dekat yaitu maraknya band-band yang melantunkan syair kecintaan pada Allah di masa Ramadhan dan kecintaan pada dunia di sebelas bulan yang lain?
Kenyataan bahwa adanya nilai sekularisme yang mengawan di langit pemikiran bangsa ini sebenarnya tidak perlu ada jika semua orang Indonesia bekerja dengan hatinya yang telah dihijab oleh agama. Bayangkan, kita tidak perlu repot-repot mendengarkan kedangkalan pemikiran yang dinyanyikan para pelantun tembang nusantara tentang cinta berlebihan yang nonsense, tentang pertanyaan mengapa selingkuh itu indah? Atau tentang betapa sakit hati seseorang yang ditinggal kekasihnya sehingga ia tidak bisa bernafas. Bayangkan, kita tidak perlu pusing-pusing karena telinga telalu sering mendengar berita maraknya kasus korupsi yang dilakukan orang pintar lemah iman. Bayangkan, kita hanya perlu mengharap menjadi generasi penuh energi spiritual karena guru-guru agama kita menjadi tauladan yang baik dan sering bertatap-muka dengan kita. Bayangkan, ketika suatu negara dijalankan dengan jiwa keimanan pada kehidupan yang kekal setelah mati, negara yang dibangun oleh setiap manusia yang tahu segala perbuatan nistanya akan diadili di Pengadilan Tertinggi dari rangkaian acara bernafas. Maka bayangkanlah juga, negara yang instansinya berdiri kokoh dengan idealisme yang lurus yaitu keadilan dan pemikiran yang dalam, yang kesemuanya ada di dalam buku besar ajaran agama.
Real dari segala sekularisme yang menjalar dalam kehidupan bermasyarakat warga negara adalah hilangnya tempat Allah di balik kata “cinta” atau “kasih sayang”. Karena apa? Manusia muda Indonesia saat ini diguyur oleh derasnya hujan makna cinta palsu yang disertai petir amazing kebudayaan gaul ga penting. Orang artis yang shalat saja berani berakting panas dengan non-muhrimnya. Semuanya demi apa? Demi uang, dan cita-cita yang tidak dilandasi pemikiran moral bahwa Allah tidak akan membiarkan ia mati kelaparan hanya karena menolak melakukan adegan itu. Indikasi selanjutnya apa? Tidak punya pegangan soal prinsip kebenaran hidup, mudah terombang-ambing demi tenar dan dianggap sukses hanya dengan menghasilkan banyak uang.
Ketika agama dipisahkan paksa dari negara maka yang terjadi adalah hilangnya tali-tali kebenaran dalam bertindak. Hilangnya makna dalam menyikapi bagian kehidupan. Hilangnya kesungguhan dalam membangun “kebahagiaan” untuk orang lain.
Maka bukankah manusia itu hanya seberkas kelemahan saja? Bukankah para manusia itu hanya setitik kebutaan saja? Bukankah manusia itu hanya sesosok bodoh saja? Akui saja bahwa manusia juga butuh kekuatan, cahaya dan ilmu yang kesemuanya hanya bisa didapatkan dari agama yang haq – ISLAM.
FIKRAH

Tidak ada komentar: