Oleh: Alfajriwasntd13
Akhwat? Iya. Hijabnya? Wow... amazing.
Tegas? Hemhem. Ukhuwahnya? Great!
Smart? Yeaha. Konsepnya? Oke punya.
Akhwat? Iya. Ganteng? Banget!!!
Maka kami hanya bisa terpaku ketika Si akhwat ganteng menguraikan idenya di syuro perdana mega-proyek ROHIS kami. Seperti biasanya, gaya bicaranya itu membuat kami – para ikhwan – tidak mampu seenaknya saja meluluhkan atau meremehkannya dalam diskusi seperti yang kami lakukan pada akhwat lain yang lembek nada suaranya. Dia bukan akhwat biasa, tidak luarbiasa juga, tapi mungkin lebih pantas bila kami menganggapnya lebih “ganteng” daripada kami – sekali lagi, kami yang ikhwan.
Bagaimana tidak? Andai saja dia ikhwan, pastilah sudah tak ada lagi akhwat yang melirik kami – Astagfirullahal’azim. Si ganteng selalu shalat dhuha setiap hari – iya, kecuali pada saat-saat tertentu. Shalat wajib? Jangan ditanya, rumor tentang dia yang selalu datang ke masjid sepuluh atau paling tidak lima menit sebelum adzan sudah tidak bisa diragukan lagi validitas-nya. Sebagai catatan penting, dia itu wakil sekolah kami di setiap lomba english debate dan web design. Anak orang kaya, naik motor besar pulang-pergi sekolah. Dan yang paling bisa menunjukkan bahwa dia sangat “ganteng” daripada kami adalah, keseriusan setiap pembicaraannya ketika dengan atau sekedar ada kami. Huft! Bisa dibayangkan jika dia ditakdirkan Allah menjadi seorang ikhwan; yang rajin ibadah, yang smart, yang naik motor keren, yang menjaga hijab dengan “sebegitunya” dan yang tegas alias kuuuuul bo’ – lho?? Bo’? – krik-krik. Mungkin sekarang kami yang terlihat cantik, ya? Yang kalah berargumen dan pandai mengalah atas pemberian kaum calon suami – apa??? Tidaaaak.... T_T
Kami tahu bahwa menegaskan suara dan keseriusan dalam berbicara antar lawan jenis itu sangat penting, apalagi untuk para akhwat yang perintahnya disuratkan Allah lewat Al-Ahzab ayat 32. Kami juga tahu, sih, bahwa memang seharusnya semua akhwat seperti Si ganteng itu. Tapi? Kering benar setiap syuro kami nantinya. Ketika tidak ada sedikit suara menyenangkan dari kaum hawa itu. Kerontang, mati panas!
Dan jika Allah marah karena kekesalan kami yang merasa tersaingi ini. Yaahh.... janganlah, kami ini hanya ikhwan yang masih duduk di bangku SMA kelas sebelas. Yang cemen+camen serta senang dengan dunia remaja kami. Ya, Allah, ampuni kami. Amin.
^o^
Ruang pikirnya penuh dengan ulangan demi ulangan celetukan sebagian besar ikhwan pada syuro yang kini semakin terbang jauh sejak tigapuluh menit lalu. Ulangan tentang satu kalimat yang... menyakitkan. “Ya, udah, Ara aja yang jadi ko.i.” begitu kata mereka tadi – lalu disambut tawa mengejek.
Memang separah itukah dirinya? Ara memutar balik segala kejadian yang pernah dialaminya dengan ikhwan-ikhwan itu. Bisingnya jalan raya dan sumpeknya jalur pasar yang tidak harum samasekali tak dihiraukannya lagi. Ruang pikir itu kini menjadi raja yang menundukkan segala inderanya.
Apa yang membuat mereka – para ikhwan – mengatakan seperti itu sebagai lelucon yang diulang sampai... ketiga kalinya di syuro hari ini? Memang ada apa? Ara merasa tak bersalah dan jalan sumpek itu kini menjadi lebih buram akibat tetes air yang diproduksi kelenjar airmatanya sepanjang jalan.
Memang pantas, ya, dia sakit hati akibat ulah ikhwan-ikhwan enggak jelas yang mungkin enggak mikir sebelum ngomong? Bukan urusannya menanggapi lelucon konyol itu. Bukan kewajibannya juga, kan, membuat hatinya semakin perih dengan meng-ekspose kalimat itu berulang-ulang dalam memori sadarnya? Hmm... Ara takut ada setan lewat dan menjadikan benih benci di hatinya.. “Astagfirullahal’azim.” gumamnya pelan seraya menyeka airmatanya untuk melanjutkan kepulangannya menuju rumah.
^o^
Akhwat ganteng? Padahal Ara juga lembut. Padahal Ara juga lucu. Padahal Ara juga akhwat. Padahal kami sayang Ara. Kami sayang Ara bukan karena mengandaikan dia seorang ikhwan, kami sayang Ara karena dia manis dan lembut walaupun bukan ikhwan-ikhwan aneh itu yang menikmatinya. Kami juga belajar untuk bisa seperti Ara.
Seharusnya Ara ditempatkan pada posisi yang baik. Bukan jadi bahan lelucon jayus itu. Bilang aja, penasaran karena enggak pernah lihat Ara yang manis. Ara, saudari yang kami sayangi, matanya merah mengembang oleh rintik sendu airmata saat beranjak dari masjid tadi. Kami tahu itu.
Memang, kan, kalau hanya nafsu saja yang dijadikan “sahabat”, jadilah mereka seperti itu. Seperti ikhwan yang capcapcuap begitu. Nyesel masuk ROHIS karena ada akhwat keren seperti Ara? Ke laut aja, sana. Rekomendasi lain? Nggak, deh, ke laut, aja. ^o^
Kamis, 27 Mei 2009
Jakarta kota yang berawalan huruf J
Pukul 22.46 WIB
Jumat, 06 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar