Jumat, 06 November 2009

Abstrasiolisme

Oleh: Alfajriwasntd13
Titik basah menapakkan jejaknya pada tanah gersang kemarau. Ia membuka pintu baru babak musim penghujan musim ini. Ia ber-ceria ria dengan dirinya yang menari indah; mengatakan cinta lewat sejuknya, lalu mengangkat bau tanah ke udara.
Sementara aku hanya bisa memandanginya melalui kaca bening di dinding kamarku yang menghadap keluar. Rintik. Tik... tik... tik.... Lalu menderas, menderas dan menderas. Dan dia bukanlah hujan pertama yang kudapati di balik kaca jendela kamarku. Dia sama seperti teman-teman hujan lainnya yang telah lalu. Dia adalah dia yang akan sekedar menjadi bagian dimensi di belakang masa depan. Hujan ini, hujan itu, adalah kenangan dan aku tak perlu menunggu besok untuk dapat memastikan bahwa ia adalah kenangan untuk detik setelah detik ini, setelah ini, dan setelah ini.
Maka aku merebahkan punggungku di pelukan kursi belajarku. Aku hanya bisa menggigit ujung batang pensil yang selalu bergeletak di meja di hadapanku. Aku hanya bisa memejamkan sepasang mataku lalu mengikhlaskan pikirku direcoki suatu perenungan yang mengaktifkan aliran polarisasi impuls syaraf bagian frontalis otakku. Ini tentang dia; hujan itu. Ini tentangnya; hujan yang lainnya. Ini tentang mereka; yang menjadi kenangan setelah detik yang setelah sebelumnya. Ini tentang semuanya yang tunduk patuh. Yang dibawa berjalan di garis angkuh bernama waktu.
^o^
Buntu. Buntu jalan pikirku. Ketika aku merenungi kapan waktu berlalu di titik nadirya. Bukankah semua orang tahu bahwa waktu itu berjalan dengan sombong tingkahnya? Bukankah semua orang tahu bahwa dirinya menjadi tua karena yang mengatur itu? Bukankah begitu?
Sementara pohon-pohon di kanan-kiri jalan tol keluar Jakarta ini tetap saja bergoyang dengan damainya. Mereka terlihat sangat puas dengan jalan takdirnya. Berayun mengikuti jiwa hidupnya. Melambai menyambut elusan angin terbang. Sementara aku memaku diri dalam kursi belakang mobil orangtuaku.
“Makan keripiknya, Ras.” Kata mama sembari menghamburkan sebungkus keripik berwarna kuning yang aku tak tahu terbuat dari apa. Aku hanya bergumam kecil untuk menyatakan bahwa aku dengar dan aku turut dengan tawarannya itu.
^o^
Hujan ini pada masa itu adalah pengantarku menuju perenungan tentang mereka. Pada saat aku memiliki yang kini tidak kumiliki. Pada saat senyum-senyum bertebar di sekeliling dan meyakinkanku bahwa saat ini tidak akan terjadi. Tapi nyatanya? Duhai, aku ini hanya sebutir pasir kecewa. Aku ini hanya bulir yang merana. Cuma manusia saja. Bukankah begitu?
Lalu karena itu aku hanya bisa meratapinya. Menanggung cerita lama yang menjadi segar dalam awang-awang memori. Wahai, aku ini hanya begitu saja. Hanya sampah nantinya. Mayat.
I dont know what I have done now
And I want to know what I dont know
I have to know
It just about... now
And I just know that no one know what for the next now.
Kamis, 4 Juni 2009
Jakarta bagian bumi Indonesia
Pukul 02.48 WIB

Tidak ada komentar: