Oleh: Alfajriwasntd13
Titik basah menapakkan jejaknya pada tanah gersang kemarau. Ia membuka pintu baru babak musim penghujan musim ini. Ia ber-ceria ria dengan dirinya yang menari indah; mengatakan cinta lewat sejuknya, lalu mengangkat bau tanah ke udara.
Sementara aku hanya bisa memandanginya melalui kaca bening di dinding kamarku yang menghadap keluar. Rintik. Tik... tik... tik.... Lalu menderas, menderas dan menderas. Dan dia bukanlah hujan pertama yang kudapati di balik kaca jendela kamarku. Dia sama seperti teman-teman hujan lainnya yang telah lalu. Dia adalah dia yang akan sekedar menjadi bagian dimensi di belakang masa depan. Hujan ini, hujan itu, adalah kenangan dan aku tak perlu menunggu besok untuk dapat memastikan bahwa ia adalah kenangan untuk detik setelah detik ini, setelah ini, dan setelah ini.
Maka aku merebahkan punggungku di pelukan kursi belajarku. Aku hanya bisa menggigit ujung batang pensil yang selalu bergeletak di meja di hadapanku. Aku hanya bisa memejamkan sepasang mataku lalu mengikhlaskan pikirku direcoki suatu perenungan yang mengaktifkan aliran polarisasi impuls syaraf bagian frontalis otakku. Ini tentang dia; hujan itu. Ini tentangnya; hujan yang lainnya. Ini tentang mereka; yang menjadi kenangan setelah detik yang setelah sebelumnya. Ini tentang semuanya yang tunduk patuh. Yang dibawa berjalan di garis angkuh bernama waktu.
^o^
Buntu. Buntu jalan pikirku. Ketika aku merenungi kapan waktu berlalu di titik nadirya. Bukankah semua orang tahu bahwa waktu itu berjalan dengan sombong tingkahnya? Bukankah semua orang tahu bahwa dirinya menjadi tua karena yang mengatur itu? Bukankah begitu?
Sementara pohon-pohon di kanan-kiri jalan tol keluar Jakarta ini tetap saja bergoyang dengan damainya. Mereka terlihat sangat puas dengan jalan takdirnya. Berayun mengikuti jiwa hidupnya. Melambai menyambut elusan angin terbang. Sementara aku memaku diri dalam kursi belakang mobil orangtuaku.
“Makan keripiknya, Ras.” Kata mama sembari menghamburkan sebungkus keripik berwarna kuning yang aku tak tahu terbuat dari apa. Aku hanya bergumam kecil untuk menyatakan bahwa aku dengar dan aku turut dengan tawarannya itu.
^o^
Hujan ini pada masa itu adalah pengantarku menuju perenungan tentang mereka. Pada saat aku memiliki yang kini tidak kumiliki. Pada saat senyum-senyum bertebar di sekeliling dan meyakinkanku bahwa saat ini tidak akan terjadi. Tapi nyatanya? Duhai, aku ini hanya sebutir pasir kecewa. Aku ini hanya bulir yang merana. Cuma manusia saja. Bukankah begitu?
Lalu karena itu aku hanya bisa meratapinya. Menanggung cerita lama yang menjadi segar dalam awang-awang memori. Wahai, aku ini hanya begitu saja. Hanya sampah nantinya. Mayat.
I dont know what I have done now
And I want to know what I dont know
I have to know
It just about... now
And I just know that no one know what for the next now.
Kamis, 4 Juni 2009
Jakarta bagian bumi Indonesia
Pukul 02.48 WIB
Jumat, 06 November 2009
Akhwat ganteng
Oleh: Alfajriwasntd13
Akhwat? Iya. Hijabnya? Wow... amazing.
Tegas? Hemhem. Ukhuwahnya? Great!
Smart? Yeaha. Konsepnya? Oke punya.
Akhwat? Iya. Ganteng? Banget!!!
Maka kami hanya bisa terpaku ketika Si akhwat ganteng menguraikan idenya di syuro perdana mega-proyek ROHIS kami. Seperti biasanya, gaya bicaranya itu membuat kami – para ikhwan – tidak mampu seenaknya saja meluluhkan atau meremehkannya dalam diskusi seperti yang kami lakukan pada akhwat lain yang lembek nada suaranya. Dia bukan akhwat biasa, tidak luarbiasa juga, tapi mungkin lebih pantas bila kami menganggapnya lebih “ganteng” daripada kami – sekali lagi, kami yang ikhwan.
Bagaimana tidak? Andai saja dia ikhwan, pastilah sudah tak ada lagi akhwat yang melirik kami – Astagfirullahal’azim. Si ganteng selalu shalat dhuha setiap hari – iya, kecuali pada saat-saat tertentu. Shalat wajib? Jangan ditanya, rumor tentang dia yang selalu datang ke masjid sepuluh atau paling tidak lima menit sebelum adzan sudah tidak bisa diragukan lagi validitas-nya. Sebagai catatan penting, dia itu wakil sekolah kami di setiap lomba english debate dan web design. Anak orang kaya, naik motor besar pulang-pergi sekolah. Dan yang paling bisa menunjukkan bahwa dia sangat “ganteng” daripada kami adalah, keseriusan setiap pembicaraannya ketika dengan atau sekedar ada kami. Huft! Bisa dibayangkan jika dia ditakdirkan Allah menjadi seorang ikhwan; yang rajin ibadah, yang smart, yang naik motor keren, yang menjaga hijab dengan “sebegitunya” dan yang tegas alias kuuuuul bo’ – lho?? Bo’? – krik-krik. Mungkin sekarang kami yang terlihat cantik, ya? Yang kalah berargumen dan pandai mengalah atas pemberian kaum calon suami – apa??? Tidaaaak.... T_T
Kami tahu bahwa menegaskan suara dan keseriusan dalam berbicara antar lawan jenis itu sangat penting, apalagi untuk para akhwat yang perintahnya disuratkan Allah lewat Al-Ahzab ayat 32. Kami juga tahu, sih, bahwa memang seharusnya semua akhwat seperti Si ganteng itu. Tapi? Kering benar setiap syuro kami nantinya. Ketika tidak ada sedikit suara menyenangkan dari kaum hawa itu. Kerontang, mati panas!
Dan jika Allah marah karena kekesalan kami yang merasa tersaingi ini. Yaahh.... janganlah, kami ini hanya ikhwan yang masih duduk di bangku SMA kelas sebelas. Yang cemen+camen serta senang dengan dunia remaja kami. Ya, Allah, ampuni kami. Amin.
^o^
Ruang pikirnya penuh dengan ulangan demi ulangan celetukan sebagian besar ikhwan pada syuro yang kini semakin terbang jauh sejak tigapuluh menit lalu. Ulangan tentang satu kalimat yang... menyakitkan. “Ya, udah, Ara aja yang jadi ko.i.” begitu kata mereka tadi – lalu disambut tawa mengejek.
Memang separah itukah dirinya? Ara memutar balik segala kejadian yang pernah dialaminya dengan ikhwan-ikhwan itu. Bisingnya jalan raya dan sumpeknya jalur pasar yang tidak harum samasekali tak dihiraukannya lagi. Ruang pikir itu kini menjadi raja yang menundukkan segala inderanya.
Apa yang membuat mereka – para ikhwan – mengatakan seperti itu sebagai lelucon yang diulang sampai... ketiga kalinya di syuro hari ini? Memang ada apa? Ara merasa tak bersalah dan jalan sumpek itu kini menjadi lebih buram akibat tetes air yang diproduksi kelenjar airmatanya sepanjang jalan.
Memang pantas, ya, dia sakit hati akibat ulah ikhwan-ikhwan enggak jelas yang mungkin enggak mikir sebelum ngomong? Bukan urusannya menanggapi lelucon konyol itu. Bukan kewajibannya juga, kan, membuat hatinya semakin perih dengan meng-ekspose kalimat itu berulang-ulang dalam memori sadarnya? Hmm... Ara takut ada setan lewat dan menjadikan benih benci di hatinya.. “Astagfirullahal’azim.” gumamnya pelan seraya menyeka airmatanya untuk melanjutkan kepulangannya menuju rumah.
^o^
Akhwat ganteng? Padahal Ara juga lembut. Padahal Ara juga lucu. Padahal Ara juga akhwat. Padahal kami sayang Ara. Kami sayang Ara bukan karena mengandaikan dia seorang ikhwan, kami sayang Ara karena dia manis dan lembut walaupun bukan ikhwan-ikhwan aneh itu yang menikmatinya. Kami juga belajar untuk bisa seperti Ara.
Seharusnya Ara ditempatkan pada posisi yang baik. Bukan jadi bahan lelucon jayus itu. Bilang aja, penasaran karena enggak pernah lihat Ara yang manis. Ara, saudari yang kami sayangi, matanya merah mengembang oleh rintik sendu airmata saat beranjak dari masjid tadi. Kami tahu itu.
Memang, kan, kalau hanya nafsu saja yang dijadikan “sahabat”, jadilah mereka seperti itu. Seperti ikhwan yang capcapcuap begitu. Nyesel masuk ROHIS karena ada akhwat keren seperti Ara? Ke laut aja, sana. Rekomendasi lain? Nggak, deh, ke laut, aja. ^o^
Kamis, 27 Mei 2009
Jakarta kota yang berawalan huruf J
Pukul 22.46 WIB
Akhwat? Iya. Hijabnya? Wow... amazing.
Tegas? Hemhem. Ukhuwahnya? Great!
Smart? Yeaha. Konsepnya? Oke punya.
Akhwat? Iya. Ganteng? Banget!!!
Maka kami hanya bisa terpaku ketika Si akhwat ganteng menguraikan idenya di syuro perdana mega-proyek ROHIS kami. Seperti biasanya, gaya bicaranya itu membuat kami – para ikhwan – tidak mampu seenaknya saja meluluhkan atau meremehkannya dalam diskusi seperti yang kami lakukan pada akhwat lain yang lembek nada suaranya. Dia bukan akhwat biasa, tidak luarbiasa juga, tapi mungkin lebih pantas bila kami menganggapnya lebih “ganteng” daripada kami – sekali lagi, kami yang ikhwan.
Bagaimana tidak? Andai saja dia ikhwan, pastilah sudah tak ada lagi akhwat yang melirik kami – Astagfirullahal’azim. Si ganteng selalu shalat dhuha setiap hari – iya, kecuali pada saat-saat tertentu. Shalat wajib? Jangan ditanya, rumor tentang dia yang selalu datang ke masjid sepuluh atau paling tidak lima menit sebelum adzan sudah tidak bisa diragukan lagi validitas-nya. Sebagai catatan penting, dia itu wakil sekolah kami di setiap lomba english debate dan web design. Anak orang kaya, naik motor besar pulang-pergi sekolah. Dan yang paling bisa menunjukkan bahwa dia sangat “ganteng” daripada kami adalah, keseriusan setiap pembicaraannya ketika dengan atau sekedar ada kami. Huft! Bisa dibayangkan jika dia ditakdirkan Allah menjadi seorang ikhwan; yang rajin ibadah, yang smart, yang naik motor keren, yang menjaga hijab dengan “sebegitunya” dan yang tegas alias kuuuuul bo’ – lho?? Bo’? – krik-krik. Mungkin sekarang kami yang terlihat cantik, ya? Yang kalah berargumen dan pandai mengalah atas pemberian kaum calon suami – apa??? Tidaaaak.... T_T
Kami tahu bahwa menegaskan suara dan keseriusan dalam berbicara antar lawan jenis itu sangat penting, apalagi untuk para akhwat yang perintahnya disuratkan Allah lewat Al-Ahzab ayat 32. Kami juga tahu, sih, bahwa memang seharusnya semua akhwat seperti Si ganteng itu. Tapi? Kering benar setiap syuro kami nantinya. Ketika tidak ada sedikit suara menyenangkan dari kaum hawa itu. Kerontang, mati panas!
Dan jika Allah marah karena kekesalan kami yang merasa tersaingi ini. Yaahh.... janganlah, kami ini hanya ikhwan yang masih duduk di bangku SMA kelas sebelas. Yang cemen+camen serta senang dengan dunia remaja kami. Ya, Allah, ampuni kami. Amin.
^o^
Ruang pikirnya penuh dengan ulangan demi ulangan celetukan sebagian besar ikhwan pada syuro yang kini semakin terbang jauh sejak tigapuluh menit lalu. Ulangan tentang satu kalimat yang... menyakitkan. “Ya, udah, Ara aja yang jadi ko.i.” begitu kata mereka tadi – lalu disambut tawa mengejek.
Memang separah itukah dirinya? Ara memutar balik segala kejadian yang pernah dialaminya dengan ikhwan-ikhwan itu. Bisingnya jalan raya dan sumpeknya jalur pasar yang tidak harum samasekali tak dihiraukannya lagi. Ruang pikir itu kini menjadi raja yang menundukkan segala inderanya.
Apa yang membuat mereka – para ikhwan – mengatakan seperti itu sebagai lelucon yang diulang sampai... ketiga kalinya di syuro hari ini? Memang ada apa? Ara merasa tak bersalah dan jalan sumpek itu kini menjadi lebih buram akibat tetes air yang diproduksi kelenjar airmatanya sepanjang jalan.
Memang pantas, ya, dia sakit hati akibat ulah ikhwan-ikhwan enggak jelas yang mungkin enggak mikir sebelum ngomong? Bukan urusannya menanggapi lelucon konyol itu. Bukan kewajibannya juga, kan, membuat hatinya semakin perih dengan meng-ekspose kalimat itu berulang-ulang dalam memori sadarnya? Hmm... Ara takut ada setan lewat dan menjadikan benih benci di hatinya.. “Astagfirullahal’azim.” gumamnya pelan seraya menyeka airmatanya untuk melanjutkan kepulangannya menuju rumah.
^o^
Akhwat ganteng? Padahal Ara juga lembut. Padahal Ara juga lucu. Padahal Ara juga akhwat. Padahal kami sayang Ara. Kami sayang Ara bukan karena mengandaikan dia seorang ikhwan, kami sayang Ara karena dia manis dan lembut walaupun bukan ikhwan-ikhwan aneh itu yang menikmatinya. Kami juga belajar untuk bisa seperti Ara.
Seharusnya Ara ditempatkan pada posisi yang baik. Bukan jadi bahan lelucon jayus itu. Bilang aja, penasaran karena enggak pernah lihat Ara yang manis. Ara, saudari yang kami sayangi, matanya merah mengembang oleh rintik sendu airmata saat beranjak dari masjid tadi. Kami tahu itu.
Memang, kan, kalau hanya nafsu saja yang dijadikan “sahabat”, jadilah mereka seperti itu. Seperti ikhwan yang capcapcuap begitu. Nyesel masuk ROHIS karena ada akhwat keren seperti Ara? Ke laut aja, sana. Rekomendasi lain? Nggak, deh, ke laut, aja. ^o^
Kamis, 27 Mei 2009
Jakarta kota yang berawalan huruf J
Pukul 22.46 WIB
Negara dan Agama
Deretan idealism yang merantai dunia adalah seperti gulungan bombardir otak dan jiwa umat manusia. Mereka layaknya jejaring Spiderman yang siap menjerat siapa saja untuk terperangkap dan menjadi budaknya selama-lamanya. Dalam pada itu, tema “negara dan agama” adalah primadona di ruang diskusi internasional.
Keduanya – negara dan agama – merupakan bentuk pilihan jiwa manusia untuk menjawab pertanyaan, “Untuk apa saya hidup?” atau “Apakah yang paling bisa dijadikan prinsip kebenaran hidup saya?”. Mereka sangat complicated dan menggenggam keduanya secara bersamaan sangat menyulitkan bagi sebagian makhluk paling sempurna bernama manusia. Selanjutnya, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya kaum sekuler yang memisahkan keberadaan agama dalam perilaku bernegara mereka adalah bukti nyata hasil kebingungan warga dunia.
Di dalam perjalanan sejarah, imperium agama yang bernegara sekaligus negara yang beragama pernah memimpin langkah kehidupan manusia bumi. Ialah kerajaan Abbasiyah dan kerajaan Umayyah yang notabene perpanjangan kisah daulah Islamiyah yang awalnya dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW dari kota kecil Madina yang suci 14 abad silam. Bahkan hingga kini, beberapa negara timur tengah sana masih menggunakan cara pandang yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAW. Contoh yang paling gamblang adalah Kerajaan Arab Saudi yang masih eksis dengan bendera hijau bertuliskan syahadat. Mereka yang menjalankan roda pemerintahan dengan energi keikhlasan dalam beragama mengetahui dengan cerdas bahwa keduanya – negara dan agama – adalah komponen yang saling menopang demi kesejahteraan rakyat bangsanya. Sebab negara yang dipertahankan Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan selalu menyadarkan para jajarannya untuk selalu memutuskan dan melakukan segalanya dengan tuntunan agama yang pastinya tidak akan mencederai HAM “standar dunia”, hukum keadilan dan falsafat keindahan tentang negara.
Sementara di Indonesia yang katanya 100 % penduduknya beragama, kita masih menjumpai adanya praktek sekularisme. Ambillah contoh intensitas pendidikan agama di sekolah yang hanya satu kali pertemuan satu minggu, atau beberapa kasus korup yang dilancarkan pejabat keagamaan, atau contoh yang paling dekat yaitu maraknya band-band yang melantunkan syair kecintaan pada Allah di masa Ramadhan dan kecintaan pada dunia di sebelas bulan yang lain?
Kenyataan bahwa adanya nilai sekularisme yang mengawan di langit pemikiran bangsa ini sebenarnya tidak perlu ada jika semua orang Indonesia bekerja dengan hatinya yang telah dihijab oleh agama. Bayangkan, kita tidak perlu repot-repot mendengarkan kedangkalan pemikiran yang dinyanyikan para pelantun tembang nusantara tentang cinta berlebihan yang nonsense, tentang pertanyaan mengapa selingkuh itu indah? Atau tentang betapa sakit hati seseorang yang ditinggal kekasihnya sehingga ia tidak bisa bernafas. Bayangkan, kita tidak perlu pusing-pusing karena telinga telalu sering mendengar berita maraknya kasus korupsi yang dilakukan orang pintar lemah iman. Bayangkan, kita hanya perlu mengharap menjadi generasi penuh energi spiritual karena guru-guru agama kita menjadi tauladan yang baik dan sering bertatap-muka dengan kita. Bayangkan, ketika suatu negara dijalankan dengan jiwa keimanan pada kehidupan yang kekal setelah mati, negara yang dibangun oleh setiap manusia yang tahu segala perbuatan nistanya akan diadili di Pengadilan Tertinggi dari rangkaian acara bernafas. Maka bayangkanlah juga, negara yang instansinya berdiri kokoh dengan idealisme yang lurus yaitu keadilan dan pemikiran yang dalam, yang kesemuanya ada di dalam buku besar ajaran agama.
Real dari segala sekularisme yang menjalar dalam kehidupan bermasyarakat warga negara adalah hilangnya tempat Allah di balik kata “cinta” atau “kasih sayang”. Karena apa? Manusia muda Indonesia saat ini diguyur oleh derasnya hujan makna cinta palsu yang disertai petir amazing kebudayaan gaul ga penting. Orang artis yang shalat saja berani berakting panas dengan non-muhrimnya. Semuanya demi apa? Demi uang, dan cita-cita yang tidak dilandasi pemikiran moral bahwa Allah tidak akan membiarkan ia mati kelaparan hanya karena menolak melakukan adegan itu. Indikasi selanjutnya apa? Tidak punya pegangan soal prinsip kebenaran hidup, mudah terombang-ambing demi tenar dan dianggap sukses hanya dengan menghasilkan banyak uang.
Ketika agama dipisahkan paksa dari negara maka yang terjadi adalah hilangnya tali-tali kebenaran dalam bertindak. Hilangnya makna dalam menyikapi bagian kehidupan. Hilangnya kesungguhan dalam membangun “kebahagiaan” untuk orang lain.
Maka bukankah manusia itu hanya seberkas kelemahan saja? Bukankah para manusia itu hanya setitik kebutaan saja? Bukankah manusia itu hanya sesosok bodoh saja? Akui saja bahwa manusia juga butuh kekuatan, cahaya dan ilmu yang kesemuanya hanya bisa didapatkan dari agama yang haq – ISLAM.
Keduanya – negara dan agama – merupakan bentuk pilihan jiwa manusia untuk menjawab pertanyaan, “Untuk apa saya hidup?” atau “Apakah yang paling bisa dijadikan prinsip kebenaran hidup saya?”. Mereka sangat complicated dan menggenggam keduanya secara bersamaan sangat menyulitkan bagi sebagian makhluk paling sempurna bernama manusia. Selanjutnya, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya kaum sekuler yang memisahkan keberadaan agama dalam perilaku bernegara mereka adalah bukti nyata hasil kebingungan warga dunia.
Di dalam perjalanan sejarah, imperium agama yang bernegara sekaligus negara yang beragama pernah memimpin langkah kehidupan manusia bumi. Ialah kerajaan Abbasiyah dan kerajaan Umayyah yang notabene perpanjangan kisah daulah Islamiyah yang awalnya dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW dari kota kecil Madina yang suci 14 abad silam. Bahkan hingga kini, beberapa negara timur tengah sana masih menggunakan cara pandang yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAW. Contoh yang paling gamblang adalah Kerajaan Arab Saudi yang masih eksis dengan bendera hijau bertuliskan syahadat. Mereka yang menjalankan roda pemerintahan dengan energi keikhlasan dalam beragama mengetahui dengan cerdas bahwa keduanya – negara dan agama – adalah komponen yang saling menopang demi kesejahteraan rakyat bangsanya. Sebab negara yang dipertahankan Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan selalu menyadarkan para jajarannya untuk selalu memutuskan dan melakukan segalanya dengan tuntunan agama yang pastinya tidak akan mencederai HAM “standar dunia”, hukum keadilan dan falsafat keindahan tentang negara.
Sementara di Indonesia yang katanya 100 % penduduknya beragama, kita masih menjumpai adanya praktek sekularisme. Ambillah contoh intensitas pendidikan agama di sekolah yang hanya satu kali pertemuan satu minggu, atau beberapa kasus korup yang dilancarkan pejabat keagamaan, atau contoh yang paling dekat yaitu maraknya band-band yang melantunkan syair kecintaan pada Allah di masa Ramadhan dan kecintaan pada dunia di sebelas bulan yang lain?
Kenyataan bahwa adanya nilai sekularisme yang mengawan di langit pemikiran bangsa ini sebenarnya tidak perlu ada jika semua orang Indonesia bekerja dengan hatinya yang telah dihijab oleh agama. Bayangkan, kita tidak perlu repot-repot mendengarkan kedangkalan pemikiran yang dinyanyikan para pelantun tembang nusantara tentang cinta berlebihan yang nonsense, tentang pertanyaan mengapa selingkuh itu indah? Atau tentang betapa sakit hati seseorang yang ditinggal kekasihnya sehingga ia tidak bisa bernafas. Bayangkan, kita tidak perlu pusing-pusing karena telinga telalu sering mendengar berita maraknya kasus korupsi yang dilakukan orang pintar lemah iman. Bayangkan, kita hanya perlu mengharap menjadi generasi penuh energi spiritual karena guru-guru agama kita menjadi tauladan yang baik dan sering bertatap-muka dengan kita. Bayangkan, ketika suatu negara dijalankan dengan jiwa keimanan pada kehidupan yang kekal setelah mati, negara yang dibangun oleh setiap manusia yang tahu segala perbuatan nistanya akan diadili di Pengadilan Tertinggi dari rangkaian acara bernafas. Maka bayangkanlah juga, negara yang instansinya berdiri kokoh dengan idealisme yang lurus yaitu keadilan dan pemikiran yang dalam, yang kesemuanya ada di dalam buku besar ajaran agama.
Real dari segala sekularisme yang menjalar dalam kehidupan bermasyarakat warga negara adalah hilangnya tempat Allah di balik kata “cinta” atau “kasih sayang”. Karena apa? Manusia muda Indonesia saat ini diguyur oleh derasnya hujan makna cinta palsu yang disertai petir amazing kebudayaan gaul ga penting. Orang artis yang shalat saja berani berakting panas dengan non-muhrimnya. Semuanya demi apa? Demi uang, dan cita-cita yang tidak dilandasi pemikiran moral bahwa Allah tidak akan membiarkan ia mati kelaparan hanya karena menolak melakukan adegan itu. Indikasi selanjutnya apa? Tidak punya pegangan soal prinsip kebenaran hidup, mudah terombang-ambing demi tenar dan dianggap sukses hanya dengan menghasilkan banyak uang.
Ketika agama dipisahkan paksa dari negara maka yang terjadi adalah hilangnya tali-tali kebenaran dalam bertindak. Hilangnya makna dalam menyikapi bagian kehidupan. Hilangnya kesungguhan dalam membangun “kebahagiaan” untuk orang lain.
Maka bukankah manusia itu hanya seberkas kelemahan saja? Bukankah para manusia itu hanya setitik kebutaan saja? Bukankah manusia itu hanya sesosok bodoh saja? Akui saja bahwa manusia juga butuh kekuatan, cahaya dan ilmu yang kesemuanya hanya bisa didapatkan dari agama yang haq – ISLAM.
Negara dan Agama
Deretan idealism yang merantai dunia adalah seperti gulungan bombardir otak dan jiwa umat manusia. Mereka layaknya jejaring Spiderman yang siap menjerat siapa saja untuk terperangkap dan menjadi budaknya selama-lamanya. Dalam pada itu, tema “negara dan agama” adalah primadona di ruang diskusi internasional.
Keduanya – negara dan agama – merupakan bentuk pilihan jiwa manusia untuk menjawab pertanyaan, “Untuk apa saya hidup?” atau “Apakah yang paling bisa dijadikan prinsip kebenaran hidup saya?”. Mereka sangat complicated dan menggenggam keduanya secara bersamaan sangat menyulitkan bagi sebagian makhluk paling sempurna bernama manusia. Selanjutnya, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya kaum sekuler yang memisahkan keberadaan agama dalam perilaku bernegara mereka adalah bukti nyata hasil kebingungan warga dunia.
Di dalam perjalanan sejarah, imperium agama yang bernegara sekaligus negara yang beragama pernah memimpin langkah kehidupan manusia bumi. Ialah kerajaan Abbasiyah dan kerajaan Umayyah yang notabene perpanjangan kisah daulah Islamiyah yang awalnya dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW dari kota kecil Madina yang suci 14 abad silam. Bahkan hingga kini, beberapa negara timur tengah sana masih menggunakan cara pandang yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAW. Contoh yang paling gamblang adalah Kerajaan Arab Saudi yang masih eksis dengan bendera hijau bertuliskan syahadat. Mereka yang menjalankan roda pemerintahan dengan energi keikhlasan dalam beragama mengetahui dengan cerdas bahwa keduanya – negara dan agama – adalah komponen yang saling menopang demi kesejahteraan rakyat bangsanya. Sebab negara yang dipertahankan Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan selalu menyadarkan para jajarannya untuk selalu memutuskan dan melakukan segalanya dengan tuntunan agama yang pastinya tidak akan mencederai HAM “standar dunia”, hukum keadilan dan falsafat keindahan tentang negara.
Sementara di Indonesia yang katanya 100 % penduduknya beragama, kita masih menjumpai adanya praktek sekularisme. Ambillah contoh intensitas pendidikan agama di sekolah yang hanya satu kali pertemuan satu minggu, atau beberapa kasus korup yang dilancarkan pejabat keagamaan, atau contoh yang paling dekat yaitu maraknya band-band yang melantunkan syair kecintaan pada Allah di masa Ramadhan dan kecintaan pada dunia di sebelas bulan yang lain?
Kenyataan bahwa adanya nilai sekularisme yang mengawan di langit pemikiran bangsa ini sebenarnya tidak perlu ada jika semua orang Indonesia bekerja dengan hatinya yang telah dihijab oleh agama. Bayangkan, kita tidak perlu repot-repot mendengarkan kedangkalan pemikiran yang dinyanyikan para pelantun tembang nusantara tentang cinta berlebihan yang nonsense, tentang pertanyaan mengapa selingkuh itu indah? Atau tentang betapa sakit hati seseorang yang ditinggal kekasihnya sehingga ia tidak bisa bernafas. Bayangkan, kita tidak perlu pusing-pusing karena telinga telalu sering mendengar berita maraknya kasus korupsi yang dilakukan orang pintar lemah iman. Bayangkan, kita hanya perlu mengharap menjadi generasi penuh energi spiritual karena guru-guru agama kita menjadi tauladan yang baik dan sering bertatap-muka dengan kita. Bayangkan, ketika suatu negara dijalankan dengan jiwa keimanan pada kehidupan yang kekal setelah mati, negara yang dibangun oleh setiap manusia yang tahu segala perbuatan nistanya akan diadili di Pengadilan Tertinggi dari rangkaian acara bernafas. Maka bayangkanlah juga, negara yang instansinya berdiri kokoh dengan idealisme yang lurus yaitu keadilan dan pemikiran yang dalam, yang kesemuanya ada di dalam buku besar ajaran agama.
Real dari segala sekularisme yang menjalar dalam kehidupan bermasyarakat warga negara adalah hilangnya tempat Allah di balik kata “cinta” atau “kasih sayang”. Karena apa? Manusia muda Indonesia saat ini diguyur oleh derasnya hujan makna cinta palsu yang disertai petir amazing kebudayaan gaul ga penting. Orang artis yang shalat saja berani berakting panas dengan non-muhrimnya. Semuanya demi apa? Demi uang, dan cita-cita yang tidak dilandasi pemikiran moral bahwa Allah tidak akan membiarkan ia mati kelaparan hanya karena menolak melakukan adegan itu. Indikasi selanjutnya apa? Tidak punya pegangan soal prinsip kebenaran hidup, mudah terombang-ambing demi tenar dan dianggap sukses hanya dengan menghasilkan banyak uang.
Ketika agama dipisahkan paksa dari negara maka yang terjadi adalah hilangnya tali-tali kebenaran dalam bertindak. Hilangnya makna dalam menyikapi bagian kehidupan. Hilangnya kesungguhan dalam membangun “kebahagiaan” untuk orang lain.
Maka bukankah manusia itu hanya seberkas kelemahan saja? Bukankah para manusia itu hanya setitik kebutaan saja? Bukankah manusia itu hanya sesosok bodoh saja? Akui saja bahwa manusia juga butuh kekuatan, cahaya dan ilmu yang kesemuanya hanya bisa didapatkan dari agama yang haq – ISLAM.
FIKRAH
Keduanya – negara dan agama – merupakan bentuk pilihan jiwa manusia untuk menjawab pertanyaan, “Untuk apa saya hidup?” atau “Apakah yang paling bisa dijadikan prinsip kebenaran hidup saya?”. Mereka sangat complicated dan menggenggam keduanya secara bersamaan sangat menyulitkan bagi sebagian makhluk paling sempurna bernama manusia. Selanjutnya, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya kaum sekuler yang memisahkan keberadaan agama dalam perilaku bernegara mereka adalah bukti nyata hasil kebingungan warga dunia.
Di dalam perjalanan sejarah, imperium agama yang bernegara sekaligus negara yang beragama pernah memimpin langkah kehidupan manusia bumi. Ialah kerajaan Abbasiyah dan kerajaan Umayyah yang notabene perpanjangan kisah daulah Islamiyah yang awalnya dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW dari kota kecil Madina yang suci 14 abad silam. Bahkan hingga kini, beberapa negara timur tengah sana masih menggunakan cara pandang yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAW. Contoh yang paling gamblang adalah Kerajaan Arab Saudi yang masih eksis dengan bendera hijau bertuliskan syahadat. Mereka yang menjalankan roda pemerintahan dengan energi keikhlasan dalam beragama mengetahui dengan cerdas bahwa keduanya – negara dan agama – adalah komponen yang saling menopang demi kesejahteraan rakyat bangsanya. Sebab negara yang dipertahankan Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan selalu menyadarkan para jajarannya untuk selalu memutuskan dan melakukan segalanya dengan tuntunan agama yang pastinya tidak akan mencederai HAM “standar dunia”, hukum keadilan dan falsafat keindahan tentang negara.
Sementara di Indonesia yang katanya 100 % penduduknya beragama, kita masih menjumpai adanya praktek sekularisme. Ambillah contoh intensitas pendidikan agama di sekolah yang hanya satu kali pertemuan satu minggu, atau beberapa kasus korup yang dilancarkan pejabat keagamaan, atau contoh yang paling dekat yaitu maraknya band-band yang melantunkan syair kecintaan pada Allah di masa Ramadhan dan kecintaan pada dunia di sebelas bulan yang lain?
Kenyataan bahwa adanya nilai sekularisme yang mengawan di langit pemikiran bangsa ini sebenarnya tidak perlu ada jika semua orang Indonesia bekerja dengan hatinya yang telah dihijab oleh agama. Bayangkan, kita tidak perlu repot-repot mendengarkan kedangkalan pemikiran yang dinyanyikan para pelantun tembang nusantara tentang cinta berlebihan yang nonsense, tentang pertanyaan mengapa selingkuh itu indah? Atau tentang betapa sakit hati seseorang yang ditinggal kekasihnya sehingga ia tidak bisa bernafas. Bayangkan, kita tidak perlu pusing-pusing karena telinga telalu sering mendengar berita maraknya kasus korupsi yang dilakukan orang pintar lemah iman. Bayangkan, kita hanya perlu mengharap menjadi generasi penuh energi spiritual karena guru-guru agama kita menjadi tauladan yang baik dan sering bertatap-muka dengan kita. Bayangkan, ketika suatu negara dijalankan dengan jiwa keimanan pada kehidupan yang kekal setelah mati, negara yang dibangun oleh setiap manusia yang tahu segala perbuatan nistanya akan diadili di Pengadilan Tertinggi dari rangkaian acara bernafas. Maka bayangkanlah juga, negara yang instansinya berdiri kokoh dengan idealisme yang lurus yaitu keadilan dan pemikiran yang dalam, yang kesemuanya ada di dalam buku besar ajaran agama.
Real dari segala sekularisme yang menjalar dalam kehidupan bermasyarakat warga negara adalah hilangnya tempat Allah di balik kata “cinta” atau “kasih sayang”. Karena apa? Manusia muda Indonesia saat ini diguyur oleh derasnya hujan makna cinta palsu yang disertai petir amazing kebudayaan gaul ga penting. Orang artis yang shalat saja berani berakting panas dengan non-muhrimnya. Semuanya demi apa? Demi uang, dan cita-cita yang tidak dilandasi pemikiran moral bahwa Allah tidak akan membiarkan ia mati kelaparan hanya karena menolak melakukan adegan itu. Indikasi selanjutnya apa? Tidak punya pegangan soal prinsip kebenaran hidup, mudah terombang-ambing demi tenar dan dianggap sukses hanya dengan menghasilkan banyak uang.
Ketika agama dipisahkan paksa dari negara maka yang terjadi adalah hilangnya tali-tali kebenaran dalam bertindak. Hilangnya makna dalam menyikapi bagian kehidupan. Hilangnya kesungguhan dalam membangun “kebahagiaan” untuk orang lain.
Maka bukankah manusia itu hanya seberkas kelemahan saja? Bukankah para manusia itu hanya setitik kebutaan saja? Bukankah manusia itu hanya sesosok bodoh saja? Akui saja bahwa manusia juga butuh kekuatan, cahaya dan ilmu yang kesemuanya hanya bisa didapatkan dari agama yang haq – ISLAM.
FIKRAH
Langganan:
Postingan (Atom)
